Laman

.....sedikitpun,jangan ada rasa permusuhan didalam hatimu...pancarkan sinar cinta kasih kepada semua makhluk Tuhan...itulah sumber kedamaian dan ketentraman dlm pribadimu.....

Senin, 29 Maret 2010

MBAH SABIL

Salah satu riwayatnya mbah Hasyim, yaitu sebelum mbah Sabil datang ke Kuncen, mbah Hasyim sudah menjadi kyai di daerah Kuncen yang saat itu daerah/desa yang ditempati mbah Hasyim belum mempunyai nama. Tidak ada data pasti yang menunjukan siapakah sebenarnya mbah Hasyim dengan langgar (surau) kecilnya…? darimanakah asal beliau…? yang jelas mbah Hasyim mendapat julukan Ketib Hasyim (para sesepuh mengartikan ketib sebagai katib:penulis, penyalin, sekretaris. atau khadam:pelayan) setelah kedatangan mbah Sabil, beliau dikenal juga sebagai merbot masjidnya mbah Sabil.
Mbah Sabil sendiri mempunyai nama asli Pangeran Adiningrat Dandang Kusuma. Beliau adalah orang rantau dari kerajaan Mataram Jogya. Pada sekitar + abad XVII, beliau dikejar-kejar oleh Belanda, kemudian menyelamatkan diri kearah timur hingga sampai di Dusun Jethak-Bojonegoro. Beberapa saat setelah kedatangannya di Jethak, namanya diganti Sabil karena kekhawatiran beliau diketahui oleh Belanda, toh pada akhirnya ketahuan juga oleh kaum penjajah. Kemudian dari Jethak melarikan diri lagi, menyelamatkan diri hingga tiba di Dusun Jumok. Tempat ini masuk wilayah kecamatan Ngraho bagian timur, kira-kira 15 km dari Kecamatan Padangan ke arah selatan

II. Permulaan Mbah Sabil Tiba di Desa Kuncen

Setelah beberapa saat tinggal di Jumok, mbah Sabil berencana untuk pergi ke Ampel Surabaya. Perlu diketahui bahwa mbah Sabil adalah alumni Pondok Pesantren Ampel Denta Surabaya, hanya tidak diketahui kapan beliau belajar disana. Dalam rencananya, kepergian mbah Sabil ke Ampel harus sudah sampai tujuan dalam waktu semalam. Setelah ditentukan harinya, beliau berangkat dari Dusun Jumok ke Ampel Gading Surabaya setelah sholat Isya’. Beliau berjalan ke-arah Ngraho lalu ke barat dan diteruskan ke utara hingga akhirnya berhenti di Bengawan Solo. Setelah tiba di bengawan, beliau milir/ngintir mengikuti aliran Sungai Solo dengan menaiki kranjang mata ero serta membawa peralatan memasak seperti kendil, enthong dan lain-lain, yang saat ini diketahui bahwa peralatan tersebut ditanam dipojok sisi timur bagian depan didalam makam.
Bersamaan dengan mbah Sabil ngintir, beliau tiba disalah satu tikungan Bengawan Solo, mbah Sabil dengongok/anguk-anguk . Ditempat mbah Sabil anguk–anguk inilah lama kelamaan tempat tersebut dikenal sebagai Desa Dengok. Mbah Sabil ngintir lagi ke timur, beliau mendengar suara burung Gemek ngoceh (berkicau), akhirnya tempat tersebut berubah menjadi Dukuh Dema’an. Perjalanan diteruskan ke timur dengan kranjang mata ero-nya, hingga mendengar burung jalak ngoceh dan menjadilah dukuh Jalakan. Dari Jalakan langsung ketimur dan terdengar ada ayam jago yang sedang berkokok. Hal ini menarik perhatian mbah Sabil, ternyata ayam jago tersebut berada disekitar kalangane (daerahnya) tempat sabung ayam, sehingga tempat tersebut dinamakan dukuh Kalangan.
Bersamaan beliau tiba di salah satu tempat, Fajar Shodiq sudah terlihat, akhirnya tempat tersebut dinamakan Pajaran asal dari kata Pajar (fajar). Fajar Sendiri dalam pengertianya ada dua dari keseluruhan hukum-hukum yang telah dijelaskan Rasulullah yaitu fajar kadzib dan fajar shodiq. Fajar kadzib adalah cahaya warna putih memanjang bersinar yang nampak dari atas ke bawah seperti ekor srigala dan sedikit-demi sedikit hilang. Fajar ini tidak menghalalkan sholat subuh, dan tidak mengharamkan makanan bagi orang yang sedang berpuasa. Sedangkan fajar shodiq adalah warna merah yang bersinar tersebar, yang melintang diangkasa diatas puncak bukit-bukit dan gunung-gunung, tersebar di jalan-jalan, gang-gang, rumah-rumah, dan inilah yang berhubungan dengan hukum-hukum puasa dan sholat .
Semakin lama akhirnya Pajaran disebut juga Padangan, karena sudah Padang (terang). Berhentikah mbah Sabil ?…tidak ! Akhirnya beliau terus ke timur, hingga bertemu dengan mbah Hasyim yang saat itu sedang mengambil air wudhu di tepi Sungai Solo. Saat itu Bengawan Solo masih kecil dan sempit tepat kiranya bila disebut Sungai.
Terlihat oleh mbah Hasyim dari arah barat, sesuatu bergerak menuju ke-arahnya. Mbah Hasyim penasaran melihat “sesuatu” tersebut. Setelah diperhatikan dengan cermat, ternyata ada seseorang yang sedang naik keranjang, dan lebih-lebih tambah penasarannya setelah diketahui keranjang tersebut ternyata kranjang mata-ero. Anggapan mbah Hasyim, jelas ini bukan sembarang orang dan ditunggulah orang tersebut. Setelah dekat mbah Sabil yang masih bersila diatas keranjang ajaib itu ditanya oleh mbah Hasyim: “Gerangan mau kemana ki sanak ?”. Lalu dijawab oleh mbah Sabil: “Kula bade kesah wonten Ampel Denta Surabaya” (saya mau pergi ke Ampel Surabaya). Kemudian mbah Hasyim menawarkan sudilah kiranya mbah Sabil mampir dulu barang sebentar dirumahnya, “Mangga kula aturi pinarak wonten griya, mangga, mangga…” katanya. Dan turunlah mbah Sabil dari keranjang tersebut untuk memenuhi permintaan mbah Hasyim. Kemudian mbah Hasyim membawakan keranjang mbah Sabil sambil berjalan beriringan menuju kerumahnya.
Sesampai di tujuan, mereka berdua melaksanakan sholat berjama’ah di Langgar mbah Hasyim. Usai sholat mbah Hasyim matur : “Sebenarnya saya berharap, ki sanak untuk tetap tinggal disini, karena saya membutuhkan bantuan ki sanak untuk menyiarkan agama Islam disini”. Singkat cerita, mbah Sabil manut mengikuti apa yang diinginkan mbah Hasyim - agar kepergiannya ke Ampel Gading dihentikan alias di KUNCI. Akhirnya tempat tersebut akibat dari pergeseran waktu dan kata menjadi Kuncen asal dari kata kunci. Maka peristiwa inilah asal mula Desa KUNCEN.

III. Mendirikan Pesantren.

Di Desa Kuncen, mbah Sabil dan mbah Hasyim menjadikan Langgar yang semula kecil, dibangun menjadi lebih besar dan dipergunakan untuk sholat jum’at merangkap pula sebagai sebuah Pesantren. Lokasinya berada di Kuncen sebelah utara, kira-kira ke arah timur-laut dari tugu pahlawan. Tidak jelas berapa jumlah santri, dan dari mana berasal, sangat mungkin dari dukuh-dukuh sekitar. Di mata para santri, mbah Sabil adalah pribadi mulia, beliau tidak membeda-bedakan santrinya, sikap lembut, sabar, ramah dan tegas adalah sikap padu dalam metodologi pendidikan & pengajaran yang diterapkan. Istiqomah dan bersahaja merupakan ciri utama kehidupan sehari-hari. Para santri merasa mendapatkan bimbingan setiap hari, siang dan malam. Ada beberapa santri kinasih mbah Sabil, diantaranya:
1) Mbah Kyai Abdurrohman Klothok. Beliau adalah cucu mbah Sabil sendiri, yang saat ini makamnya berada disebelah barat Masjid Klothok, Banjarjo, utara SPBU milik Nyonya Hj. Mu’ayanah Hakim Effendi Kuncen.
2) Mbah Kamaluddin, makamnya berada di Oro-oro Bogo (bagian dari bumi Kuncen paling selatan).
3) Mbah Mamuddin (Imamuddin).
4) Mbah Jaenuddin (Zaenuddin).
5) Mbah Moyumuddin (Muchyidin).

Ada sedikit cerita tentang salah satu santri kinasih mbah Sabil yaitu mbah Kamaluddin. Saat itu mbah Kamaluddin menjadi Lurah Pondok di Pesantren mbah Sabil. Kegemaran beliau mencari ikan, salah satunya dengan mbesang menggunakan wuwu . Tempat yang sering digunakan mbesang oleh mbah Kamaluddin berada di Kuncen bagian timur, yang akhirnya tempat tersebut menjadi Dukuh mBasangan.
Suatu ketika beliau mengambil wuwu besangannya, ternyata bukan ikan yang didapat melainkan krèthè (anak buaya). Oleh Mbah Kamaluddin krèthè tersebut dipelihara dan ditempatkan di blumbang dekat Pondok. Tidak hanya mbah Kamaluddin yang gemar memberi makan krèthè tersebut, tapi juga santri-santri yang lain. Makanan yang sering didapat krèthè tersebut adalah sisa-sisa makanan para santri terutama intip (bagian nasi yang keras dan gosong).
Hari berganti, minggu bergulir dan bulanpun berjalan demikian pula tahun meninggalkan kita, tidak terasa krèthè yang dulunya kecil berubah menjadi buaya yang besar dan menakutkan. Singkat kata, suatu hari mbah Kamaluddin dipanggil oleh mbah Sabil : “Din….Kamaluddin….bajulmu saya suwe mundak gede lan medèni cah ngaji.” (Din….Kamaluddin….buayamu makin lama makin besar dan membuat takut para santri). Mbah Kamaluddin terdiam, tapi mengerti apa maksud kyainya. Karuan saja mendengar titah kyai yang sangat dihormati itu, beliau dan beberapa santri lainnya mempersiapkan diri untuk “membuang” buaya tersebut ke sungai Solo.
Akhirnya dengan berat hati mbah Kamaluddin memindahkan buaya dengan dibantu santri-santri yang lain, dengan cara di-bopong . Sebelum diceburkan ke sungai, buaya tersebut diberi nama oleh mbah Kamaluddin: “Destoroto”.
Alkisah menurut penuturan para sesepuh, antara lain: mbah Kyai Haji Abdurrahman Rowobayan, Mbah Rayis Kuncen, mbah Tasrip Slumbung, mbah Wardi Slumbung (Jagabaya) dan banyak lain, pernah melihat dengan peningalnya (matanya) sendiri, dikala banjir melanda Desa Kuncen, buaya tersebut nglabar/nuweni makam mbah Kamaluddin di Oro-oro Bogo. Terkadang buaya tersebut berada di sekitar makam, juga berkeliaran sekitar mBasangan dan Slumbung.
Slumbung adalah nama suatu dukuh yang terletak di sebelah barat dukuh mBasangan masih dalam kawasan Desa Kuncen, dinamakan Slumbung karena ada sawah sak kedok/satu pethak, apabila dipanen hasilnya se-lumbung atau satu lumbung . Dimana sebelum memanen padi harus dikorbankan terlebih dahulu satu ekor pedet (anak sapi) karena saking banyaknya lintah yang hidup di sawah.

Masjid dan Pesantren mbah Sabil terletak di desa Kuncen bagian utara, dari tugu pahlawan ke arah timur laut, atau dari Masjid Taqwa ke utara, hanya saja sampai hari ini tanpa bekas, sebab terkikis aliran Bengawan Solo (longsor).

Setelah tutup usia, mbah Sabil dimakamkan disebelah masjid. Urusan Pondok Pesantren kini menjadi tanggung jawab mbah Hasyim. Tidak lama setelah itu mbah Hasyim pun menyusul mbah Sabil menghadap sang Kholiq, dan dimakamkan disamping makam mbah Sabil. Kurang jelas kapan beliau meninggal. Masjid dan pondok sepi karena ditinggal beliau, dan lama-kelamaan kosong melompong, mengenaskan…..

Ada cerita menarik seputar masjid sepeninggal mbah Sabil. Diwaktu Dhuhur, salah satu cucu mbah Sabil yaitu mbah Kyai Abdurrohman Klothok suatu saat tilik masjid peninggalan kakeknya. Alangkah terkejutnya beliau, masjid yang semula ramai, sekarang sepi dan sangat kelihatan sekali bahwa masjid tersebut tidak pernah dipergunakan, kotor, berdebu bahkan penuh dengan kotoran ayam. Kesucian masjid pun ternoda. Rupanya penduduk Kuncen sekitar masjid sudah tidak memperdulikan keberadaan masjid yang bersejarah tersebut.

Hal ini membuat kesal mbah kyai Abdurrohman: “Wooalah ….. Wong Kuncen kene iki bento, duwe masjid kok ora dienggo” (Orang Kuncen sini gila, punya masjid tidak dimanfaatkan). Menurut penuturan para kyai sepuh, sejak kejadian itu, kawasan tersebut (yakni sebelah utara jalan raya Surabaya, yang masuk dalam wilayah Pemerintahan Desa Kuncen) selalu ada orang yang sakit ingatan/gila, atau terganggu jiwanya, meninggal satu akan timbul lagi demikian dan seterusnya.

Karena masjid tersebut dianggap mubadzir oleh mbah Kyai Abdurrohman, masjid tersebut kemudian diboyong ke Dukuh Klothok, Desa Banjarjo, masih dalam wilayah Kecamatan Padangan. Bahkan oleh sebagian masyarakat sekitar, masjid tersebut dipercaya sebagai masjid tiban. Masjid berarsitektur Jawa itu tak begitu besar. Luasnya kira-kira 20 X 20 meter. Entah sudah berapa kali masjid itu dipugar. Dari data yang diketahui, masjid tersebut dipugar pada Oktober 1989 dan 9 Agustus 1993 M.

Perlu diketahui, bedug masjid tersebut dibuat mbah Sabil dari kayu Jeblungan, kenthongannya terbuat dari kayu otok. Disebelah barat masjid terdapat komplek kuburan. Luasnya hampir dua kali area masjid. Di tempat inilah mbah Kyai Abdurrahman disemayamkan. Makamnya berada di dalam sebuah bangunan kecil di tengah makam umum. Sebagai penghormatan kepada sang wali, setiap peziarah atau pengunjung masjid diwajibkan turun dari motor bila sudah mendekati cungkup makam mbah Kyai Abdurrahman.

Pernah suatu ketika bedug Masjid Klothok tersebut diminta oleh Bupati Bojonegoro yaitu Raden Adipati Rekso Kusumo periode 1890-1916 M dan rencana pengiriman lewat Bengawan Solo ke Bojonegoro, namun apa yang terjadi ? perahu pembawa bedug itu hanya berputar-putar saja sampai berhari-hari ditempat itu juga, akhirnya diambil keputusan: bedug tidak boleh dipindahkan kemana-mana.

Makam mbah Sabil & mbah Hasyim yang saat ini berada disebelah barat Langgar Pahlawan, telah mengalami “perpindahan” 3 kali sejak beliau dimakamkan pertama kali disebelah masjidnya. Makam/kuburan ke dua tokoh Islam ini dinamakan “Sarean Menak Anggrung” sebab tempatnya yang anggrung-anggrung menjulang tinggi ditepi jurang Bengawan Solo. Barangkali berangkat dari peristiwa inilah mbah Sabil dan mbah Hasyim dikenal sebagai Mbah Menak Anggrung. Seiring dengan waktu, ternyata posisi makam membahayakan akibat dimakan jurang alias jungkur (longsor) meskipun sudah di-cungkup . Akhirnya dipindahkan beberapa meter kearah selatan. Kapan ? dan siapa yang memindahkan ? belum ditemukan data tentang itu.

Rupanya ditempat baru inipun kurang beruntung, tanah disekitar mengalami penurunan, dan habis sedikit demi sedikit sebab terkikis oleh derasnya air sungai terutama waktu musim penghujan. Dan akhirnya dipindah lagi untuk yang kedua kalinya yang dipimpin langsung mbah Kyai Ahmad Rowobayan. Namun tempat yang baru inipun rupanya juga mengalami pengikisan, dan longsor lagi.

Setelah bermusyawarah, para pemuka agama dan tokoh masyarakat, yang dipimpin oleh panjenenganipun mbah Kyai Abdurrahman Rowobayan, maka diputuskan dipindah lagi untuk yang ketiga kalinya tepat di jantung desa yaitu Alun-alun Conthong - tempat yang sekarang ini ditempati sebagai makam, dulu sering disebut Alun-alun Conthong - pada Jum’at Kliwon, 13 Robiul Awal 1369 H atau 3 Maret 1950 M, dipandegani langsung oleh mbah Kyai Abdurrahman Rowobayan dan mbah Kyai Muntaha dari Alas-tuwo Banjarjo.

Ada sedikit cerita seputar pemindahan terakhir ini, mbah Modin Marto Mardan yang saat itu menjadi juru kunci, bermimpi berturut-turut selama 3 hari. Dalam mimpinya mbah Marto diminta mbah Sabil untuk memindahkan makam beliau. Dan prosesi pemindahan itu berlangsung seperti tersebut diatas.

Belakangan di Alun-alun Conthong, tepatnya sebelah timur makam, didirikan sebuah langgar pada tahun 1952 M, Langgar tersebut dinamakan langgar Pahlawan , sebab sebagian dari halaman depan langgar ada beberapa makam pejuang kusuma bangsa yang kira-kira antara tahun 1960 - 1962 M makam tersebut dipindah dan dijadikan satu di Taman Makam Pahlawan Bojonegoro. Untuk memperingati para pahlawan tersebut, pada tahun tersebut Pemerintah RI mendirikan sebuah tugu yang saat ini disebut Tugu Pahlawan. Kemudian tugu tersebut dipugar pada tahun 1959 dan 1981 M bersamaan dengan lewatnya api PON (Pekan Olah Raga Nasional) ke X di daerah Padangan. Sedangkan pada tahun 2007 Langgar Pahlawan diganti namanya menjadi Langgar Menak Anggrung karena komplek makam dan langgar menjadi satu.

Kembali ke pemindahan sarean mbah Sabil yang ke 3 kalinya, waktu pembongkaran cungkup, warga tidak ada yang berani membongkar sirap walaupun telah diperintah oleh mbah Kyai Abdurrahman. Hal ini karena ada seekor ular besar melilit disalah satu blandar cungkup. Lalu mbah Kyai Abdurrahman & mbah Kyai Muntaha mendatangi cungkup untuk melihat dan memastikan keberadaan ular tersebut, akhirnya mbah KH. Abdurrahman dawuh : “Kowe kabeh ora bakal diganggu” (kamu semua tidak akan diganggu), kemudian mbah KH. Abdurrahman dan mbah Kyai Muntaha mengawali mengambil dan menurunkan sirap tersebut agar orang-orang tidak takut lagi.

Proses pemindahan ini tidak dilakukan dengan cara dipikul , tetapi dilakukan dengan cara tunda rambat , karena saking banyaknya orang yang membantu dalam kegiatan tersebut. Setelah pembongkaran cungkup selesai, lalu dilanjutkan dengan pembongkaran makam. Atas izin dan kuasa ALLAH, jazad mbah Sabil & mbah Hasyim tidak menunjukkan kerusakan sama sekali alias masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dalam tanah. Sehari setelah proses pemindahan selesai, turunlah hujan yang sangat lebat, begitu reda terlihat oleh beberapa orang tracak harimau disekitar makam. Konon harimau tersebut milik mbah Sabil, demikian penjelasan dari mbah Kyai Muntaha.

19 tahun setelah pemindahan makam, tepatnya tanggal 26 Safar 1388 H, sirap dan talang cungkup diganti oleh mbah Kyai Abdurrahman Rowobayan. Kemudian pada tanggal 1 Muharram 1420 H/1 April 1999 M bangunan makam direhab total atas biaya swadaya masyarakat yang peduli, dipimpin oleh KH. Khanifuddin. Pelaksanaan pembangunan memakan waktu sampai 6 bulan dan memakan biaya kurang lebih 40 juta rupiah.

Beberapa orang yang berjasa mengabdikan diri sebagai juru-kunci makam antara lain:
1. Mbah Marto Mardan (modin Kuncen).
2. Mbah Mudji, Kuncen.
3. Mbah Mukti, kuncen.
4. Bapak Simoen Soewoto (purnawirawan AD), Kuncen
5. Bapak Mashudi, Rowobayan.
6. Bapak Sarqowi (veteran), Rowobayan – juru kunci dari tahun 1986 sampai 2006 M.
7. Tahun 2006 - sekarang tidak ada Juru Kunci

Pemerintah telah memberikan kesejahteraan kepada para juru-kunci tersebut berupa sawah bengkok di Dukuh Rowobayan. Namun sayangnya-khabar terakhir- juru kunci sudah tidak menerima bengkok lagi mulai tahun 1990-an (masa Bapak Sarqowi). Bengkok tersebut raib entah kemana. Hilang tanpa bekas.

III. Haul/peringatan.

Sesuai anjuran kyai sepuh, (red. Pengertian usia lanjut) maka pada tanggal 6 Muharram 1407 H atau 10 September 1986 M atas prakarsa KH. Khanifuddin diadakan haul pertama kali di Makam Menak Anggrung. Haul diselenggarakan setiap malam Jum’at Pahing bulan As-Syura/Muharam setiap tahunnya. Kata “haul” berasal dari bahasa Arab, artinya setahun. Peringatan Haul berarti peringatan genap 1 tahun. Peringatan ini berlaku bagi keluarga siapa saja. Gema haul akan terasa lebih dahsyat jika yang meninggal itu seorang tokoh kharismatik, ulama besar, atau pendiri sebuah pesantren. Memperingati hari wafat para wali dan para ulama termasuk amal yang tidak dilarang agama. Ini tiada lain karena peringatan itu biasanya mengandung sedikitnya 3 hal, diantaranya:
- Mengadakan bacaan al-Qur’an,
Tahlil dan Ziarah kubur. Orang yang pergi ke makam sama halnya dengan orang yang berkunjung ke rumah orang lain. Apa yang pantas dibawanya sebagai oleh-oleh? Tak lain ialah membawa pahala yang pantas disampaikan kepada penghuni kubur. Dia (penghuni kubur) tidak membutuhkan sesuatu selain pahala yang bisa kita persembahkan untuknya. Untuk mendapatkan pahala, sudah tentu kita harus membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca tahlil, dan beramal saleh, lalu pahalanya kita hadiahkan kepada penghuni kubur, Insya Allah akan sampai. Bagi orang-orang pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah, kalo ziarah kubur sudah pasti Tahlil menjadi oleh-oleh istimewa yang akan dipersembahkannya. Sebab, membaca tahlil pada hakekatnya membaca Al-Qur’an juga.

- Menerangkan riwayat hidup orang yang di-haul-li (manaqib)
Dalam hal ini dituturkan biografi mbah Sabil dan mbah Hasyim, dengan harapan menggugah semangat generasi yang masih hidup untuk meneladaninya. Menerangkan riwayat hidup orang alim/sholeh dengan niat agar bisa meniru/mengikuti tingkah laku orang tersebut termasuk kategori taat.

- Tempat arena shodaqoh, yang paling umum berupa makanan dan minuman. Mengadakan/membuat hidangan berupa makanan sekedarnya dengan niat shodaqoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar